Terima kasnih anda telah berkunjung di ibnuhasbie.blogspot.com

Entri Populer

ARSIP

Senin, 14 Februari 2011

Remaja Cerdas, Tolak Valentine!

Tiap tahun membicarakan Valentine. Tiap tahun juga makin banyak Muslim yang sadar untuk mengingatkan saudaranya akan bahayanya hari Valentine. Tapi anehnya, kok ya masih banyak remaja-remaja yang keras kepala tidak mau sadar dan disadarkan akan bahaya yang sedang mengintainya ini. Gimana nggak bahaya kalau hari Valentine itu merusak dari semua segi, mulai akidah hingga ke amaliah. Mulai dari keyakinan kamu sebagai seorang muslim hingga ke perbuatan.
Asal-muasal hari Valentine sendiri tak bisa dilepaskan dari sejarah milik non muslim. Ada versi yang menyatakan bahwa seorang pendeta bernama Valentino rela mati demi membela dua anak manusia memadu cinta dalam sebuah ikatan yang TIDAK sah. Ya, karena satu dan lain hal, kedua remaja yang sedang di mabuk cinta ini nekad melanggar aturan. Versi lain tentang asal-muasal Valentine yaitu bahwa hari ini adalah hari kawinnya burung tertentu lalu ditiru oleh manusia zaman itu. Dan masih banyak versi lainnya yang semuanya itu mengarah ke pergaulan bebas antar lawan jenis.
Nah, jelas banget bahwa dari sejarahnya saja sudah sangat kentara bahwa perayaan ini bukan milik kita, umat Islam. Apalagi bila kita jeli tentang perkembangan perayaan hari Valentine yang semakin tahun semakin mengokohkan saja yang namanya gaul bebas itu. Pesta seks digelar. Miras? Jangan ditanya. Intinya, perayaan Valentine adalah perayaan kemaksiatan yang dibungkus modernitas. Padahal sekali maksiat tetep aja maksiat judul dan isinya. Maka, remaja muslim yang cerdas pastilah gak mungkin ikut-ikutan perayaan semacam ini.
Masih banyak remaja muslim yang ikut-ikutan merayakan hari Valentine. Mereka gak tahu kalau perayaan Valentine adalah budaya non Islam yang penuh kemaksiatan.
Tapi kok masih banyak remaja yang mengaku dirinya muslim ikut-ikutan merayakan hari Valentine? Ada beberapa faktor. Bisa jadi tuh remaja gak tahu kalau perayaan Valentine adalah budaya non Islam yang berisi kemaksiatan. Sajikan fakta bahwa pesta atau perayaan valentine selalu diisi dengan hal-hal yang berbau pergaulan bebas. Bahkan banyak data menunjukkan penjualan kondom laku keras di malam Valentine ini. Bila remaja itu masih ngotot ikutan merayakan Valentine, maka jelas banget kalo tuh remaja bukan tipe yang cerdas.
Hanya remaja yang tak memakai otak saja yang mau ikut-ikutan perayaan hari Valentine. Mereka ini ibarat kerbau yang dicocok hidungnya dan mengekor saja apa yang dilakukan oleh orang lain tanpa dia paham maknanya. Bagi remaja pintar, ia pasti akan memaksimalkan otaknya plus keimanannya untuk menimbang perbuatan yang akan dilakukannya. Dan tentu saja, perayaan hari Valentine tak masuk ke dalam hitungannya.
Jadi, daripada kamu sibuk mempersiapkan acara Valentinan pada tanggal 14 Februari nanti, mending kamu mempersiapkan diri dan amunisi untuk memahamkan teman-temanmu yang masih keukeuh mau merayakan hari kemaksiatan itu. Kamu bisa mulai dengan menempelkan banyak tulisan-tulisan yang intinya menyadarkan remaja muslim dari acara hari Valentine. Nah, bila ini sudah maksimal kamu lakukan, hasilnya serahkan Allah saja.
Remaja yang cerdas, so pasti berani suarakan TOLAK VALENTINE dengan tegas.
Remaja yang membaca tulisan dan seruan itu, akan terlihat kualitasnya usai mereka membacanya. Akan terlihat mana yang cerdas yaitu mereka yang mencampakkan ide dan perayaan hari valentine, dan mereka yang membeo yaitu mereka yang tetap ikut-ikutan merayakaannya. Dan remaja muslim berkualitas, so pasti pilih yang pertama. Karena remaja cerdas, berani tegas suarakan “TOLAK VALENTINE”! [riafariana/voa-islam.com]
Remaja Cerdas, Tolak Valentine!

Jumat, 17 Desember 2010

NILAI ISTIQAMAH

إن الذين قالوا ربنا الله ثم استقاموا تتنزل عليهم الملائكة ألا تخافوا ولا تحزنوا وأبشروا بالجنة التي كنتم توعدون
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhan kami adalah Allah kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat akan turun kepada mereka (untuk mengatakan ) : Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu “. Kami (Allah) adalah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia maupun akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh pula apa yang kamu minta. Sebagai hidangan bagimu dan Tuhan yang maha pengampun lagi maha penyayang (Fushilat, 41 :30-32)
Mungkin ini adalah sebuah fenomina yang tumbuh subur mengakar didalam kehidupan kita sehari-hari. Banyak dari kita yang tidak disiplin dalam melaksanakan keyakinan, tidak tetap dalam melaksanakan tuntunan-tuntunan, tidak istiqamah dalam segala tindakan-tindakan kita sebagai seorang muslim sejati.

Saat waktu salat tiba, sering karena tidak enak meninggalkan teman-teman. Kita tidak segera melaksanakan salat dan bahkan masih terus bercengkrama dengan mereka, padahal saat itu sudah seharusnya segera melaksanakan shalat.

Ini hanyalah salah satu contoh kecil yang sering kita abaikan sehingga berdampak menjadi kebiasaan buruk, tidak disiplin dan bahkan pada akhirnya akan melupakan semua tuntunan-tuntunan keyakinan itu sendiri.
NILAI ISTIQAMAH

Senin, 06 Desember 2010

BAGAIMANA HIJRAH KITA ?


Peristiwa Hijrah adalah merupakan awal tahun baru setelah shahabat Umar Ibnu Al-Khattab RA menetapkannya sebagai kalender hijriah. Hijrah berarti berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Dari suatu sikap kepada sikap yang lain yang harus didasarkan atas niat yang baik pula.
Hijrah adalah suatu peristiwa dalam sejarah Rasulullah SAW bersama-sama dengan Mukminin berpindah dari Makkah ke Madinah bukan berarti melarikan diri karena takut siksaan, atau karena tekanan musyrikin Quraisy semata. 
Hijrah adalah satu peristiwa penting, yang menjadi titik awal kebangkitan Dakwah Islam, sebuah dedikasi demi keyakinan dan bukti kepatuhan serta taat prinsip terhadap ajaran tauhid. Dalam peristiwa hijrah ini merupakan jawaban tegas atas seruan Allah melalui pembuktian kecintaan sejati kepada Muhammad Rasulullah SAW, dengan mengalahkan kecintaan terhadap harta benda, sanak keluarga serta kerelaan menggantinya dengan keikhlasan menerima Ajaran Islam.
 

Fenomena kekuatan umat Mukminin begitu jelas tercermin dalam peristiwa hijrah ini. Mereka menampilkan citra ajaran dan latihan yang di lakukan Rasulullah SAW terhadap pengikutnya, setelah mereka di uji dengan tekanan mental yang hebat di tanah air sendiri dan bahkan berbagai ancaman seperti penculikan (QS.8:26)” yang pada akhirnya mampu menampilkan satu sosok umat bermutu (khaiyr-ummah) yang siap memikul tanggung jawab manusiawi sebagai khalifah Allah di muka bumi.
 

Puncak kewibawaan ajaran Islam dalam peristiwa ini pula merupakan gerakan nyata dari interpretasi Wahyu Al Quran yang telah menjadikan Islam sebagai agama yang benar dari Allah, yang tidak bisa di rusak oleh perdayaan dan tekanan dari golongan manapun (atheis) Quraisy dengan berbagai upaya penangkapan, pemenjaraan, pembunuhan, pengusiran, penculikan, pengucilan, intimidasi dan tidak boleh berhubungan dagang (embargo ekonomi) serta bermacam usaha makar yang diperlakukan terhadap Rasulullah SAW dan orang-orang Mukmin yang pada kenyataannya Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya”(QS.8:30). 

Hijrah adalah kesediaan melaksanakan reformasi aktual dengan menanggalkan kehidupan jahiliyah yang nyata yang terlihat tumbuh sebagai karakter masyarakat Jahiliyah, seperti penyembahan berhala dan manusia, hilangnya batas halal-haram, berkelakuan keji dan tercela (zina, sadis, miras, korupsi, kolusi, manipulasi, hedonis dan riba), menjadi ancaman terhadap orang lain, memutus silaturrahim dengan membahayakan ketenteraman tetangga, yang kuat menelan yang lemah.
 

Dengan strukturisasi ruhaniyah melalui Risalah Muhammad SAW, yang terkenal shiddiq (lurus, transparan),amanah (jujur),tabl igh (dialogis),fathanah (ilmiah), ditanamkan keyakinan bersih kepada kekuasaan Allah Yang Esa (tauhidiyah), kepercayaan terhadap hari berbangkit (akhirat), disiplin beribadah (syari’at), optimisme yang tinggi terhadap luasnya bumi (rezki), kesaudaraan mendalam (mu-akhah), akhirnya setiap pribadi mukmin siap untuk berhijrah semata-mata mengharapkan balasan (pahala) dari Allah (lihat, QS.4:100).
 

Hijrah telah menjadi ketetapan operatif yang berlangsung terus menerus dalam proses restrukturisasi masyarakat baru yang berdiri dengan ikatan kepercayaan dengan prinsip dasar yang lebih tinggi dari sekedar hubungan solidaritas kelompok, nepotisme) dan tumbuh berkembang menjadi masyarakat majemuk pertama yang hidup diatas landasan keadilan berkemakmuran.
 

Hijrah telah membentuk tatanan masyarakat yang terbuka untuk semua, dengan kesempatan berkembang mencari kehidupan berdasar hak asasi yang sama bagi semua anggota masyarakatnya.
Tidak ada kelompok yang bisa mencegah berbagai anggota masyarakatnya untuk maju. Salah satu keutamaan yang di tampilkan Islam adalah membangun satu masyarakat yang kuat berdasarkan sikap saling mengasihi (ukhuwwah dan mahabbah) dan saling membantu (ta’awun), sebuah peradaban yang tinggi yang melahirkan suatu lingkungan yang sehat politik, ekonomi, kebudayaan dan materil, sehingga memungkinkan manusia mengarahkan dirinya untuk menyembah Allah, mengikuti perintah-perintah-Nya dalam semua kegiatan (lihat QS.Tahrim,ayat 6), tanpa adanya rintangan dari institusi-institusi masyarakat.
 

Masyarakat akan tetap di anggap terbelakang sepanjang ia gagal menciptakan satu lingkungan yang tepat untuk menyembah Allah sesuai dengan syari’at-Nya. Maka tidak dapat di sangkal bahwa Islam dan Iman telah mampu membangkitkan motivasi kuat dengan keyakinan diri yang mendalaml memiliki kebebasan terarah dan bertanggung jawab, baik secara moral maupun intelektual. 

Inilah suatu catatan kaki dari sejarah hijrah yang tak boleh di abaikan.
 

Generasi umat Islam hari ini harus mampu mencapai visi baru dalam gelombang kesadaran Islam yang pengaruhnya nampak dalam tatanan kehidupan duniawi. Hanya kelompok Yahudi (zionis) tidak pernah diam berupaya sekuat daya agar manusia senantiasa mengikutm illah (konsepsi dan cara-cara) mereka (QS.2:120).
BAGAIMANA HIJRAH KITA ?

Jumat, 03 Desember 2010

MENCERMATI NILAI HAJI

Dan dari Jabir bin 'Abdillah dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam , beliau bersabda:
الْحَجَّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ ، قِيْلَ : وَمَا بِرُّهُ؟ قَالَ: إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَ طِيْبُ الْكَلاَمِ
"Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali Surga. Dikatakan (kepada beliau): 'Apakah bentuk bakti dalam haji itu?' Beliau ber-kata: 'Memberi makanan dan berbicara yang baik.’”( HR. Ahmad, ath-Thabrani, Ibnu Khuzaimah, al-Baihaqi dan al-Hakim. Al-Albani berkata: "Shahih lighairihi, lihat Shahih at-Targhiib" No. 1104) )
Menurut keyakinan kita ibadah mahdhah yang dibangun diatas lima pondasi, ibadah yang umum yang diperintahkan oleh Allah SWT didalam Al-qur'an itu tinggi kedudukannya di sisi Allah SWT dan tinggi pula kedudukaknnya disisi hamba-hamba Allah SWT dan tinggi pula manfaatnya di dalam kehidupan sosial masyarakat kita.
Dan ketika kita meneliti pada setiap ibadah-ibadah mahdhah ini ternyata ada kaitannya secara langsung maupun tidak langsung dalam kehidupan kita sebagaimana yang telah ditegaskan Allah SWT didalam Al-quran :

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan – perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadah – ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
dan haji adalah diantara sekian banyak ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT. Karena kemulyaan haji ini maka di saat orang melaksanakan ibadah haji Allah melarang untuk berbicara yang tidak pantas serta semua perbuatan-perbuatan yang tidak baik lainnya dan bekal yang terbaik dalam pelaksanaan ibadah ini tentunya adalah takwa kepada Allah SWT. Karena kemulyaan balasan ibadah haji yang mabrur adalah surga.


SELAMAT DATANG PARA HUJJAJ 

Selamat datang yang baru datang dari tanah haram. Telah sempurna rukun islam dan juga pahala yang besar dan janji Allah yang begitu muliya bagi haji yang mabrur yaitu surga. Dengan banyaknya orang-orang yang diampuni Allah SWT , dengan banyaknya orang-orang yang berkwalitas dan mempunyai mudal begitu banyak, dengan banyaknya orang-orang yang baik dan mempunyai integritas tinggi maka ketika mereka berkumpul dan bersatu kemudian berbuat kebajikan tentunya akan menjadi peluang-peluang untuk ber amar ma'ruf nahi munkar, akan menjadi mudah menyelesaikan persoalan-persoalan sosial masyarakt dan menjadi mudah untuk mengangkat martabat masyarakat dan bangsa.
Dalam momentum haji pula Rasulullah SAW mengumandangkan " hak asasi manusia"
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً . الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَكْذِبُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ . التَّقْوَى هَهُنَا –وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسَبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ - رواه مسلم
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata : Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling marah dan saling memutuskan hubungan. Dan janganlah kalian menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, (dia) tidak menzaliminya dan mengabaikannya, tidak mendustakannya dan tidak menghinanya. Taqwa itu disini (seraya menunjuk dadanya sebanyak tiga kali). Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain; haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya. (Riwayat Muslim)
 Allah SWT telah membimbing alam semesta ini dan telah membimbing rasulullah saw dan telah menyalurkannya didalam syariat dan hukum untuk kemulyaan umat manusia
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آَدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
Allah memudahkan bagi anak Adam pengangkutan-pengangkutan di daratan dan di lautan untuk memperoleh penghidupan. Memang jalan untuk mendapatkan rizki jalan untuk membangun komonikasi harus bersama sesama mahluk Allah SWT. Namun tidak boleh ada mahluk Allah yang merendahkan mahluk yang lain Firman Allah :
يَأَيّهَا الّذِينَ آمَنُواْ لاَ يَسْخَرْ قَوْمٌ مّن قَوْمٍ عَسَىَ أَن يَكُونُواْ خَيْراً مّنْهُمْ وَلاَ نِسَآءٌ مّن نّسَآءٍ عَسَىَ أَن يَكُنّ خَيْراً مّنْهُنّ وَلاَ تَلْمِزُوَاْ أَنفُسَكُمْ وَلاَ تَنَابَزُواْ بِالألْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإَيمَانِ وَمَن لّمْ يَتُبْ فَأُوْلَـَئِكَ هُمُ الظّالِمُونَ
”Hai orang-orang yang beriman, janganlah ssuatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik daripada wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah beriman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dhalim”. (QS. Al-Hujuraat : 11)
MENCERMATI NILAI HAJI

Minggu, 21 November 2010

HAJINYA MABRUR TANPA BERHAJI

والحجُّ المبرور ليس له جزاءٌ إلا الجنّة
Sabda Rasulullah SAW : Orang yang memperoleh haji Mabrur, tiada balasan baginya kecuali syurga ).
Lantas timbul pertanyaan,apakah ada jemaah haji yang tidak mendapat “haji mabrur”itu?. Jawabannya, ada. Mari kita pelajari ciri orang yang mendapat “haji mabrur” menurut Rasulullah SAW, paling tidak ada empat :  

Pertama : 
Tutur katanya selalu baik, dan menyenangkan orang lain. Memiliki sifat terpuji seperti sabar, rendah hati ( tawaddhu’ ) dan, pemaaf.
 Kedua : 
Seorang yang sudah menyandang gelar haji akan lebih ta’at beribadah, dibanding sebelum berhaji.
 Ketiga :
Seorang haji akan selalu menghindarkan diri dari berbohong dan selalu berlaku jujur dalam kesehariannya.
Keempat :
Memiliki sifat sosial yang lebih baik, suka berinfak, dan suka menolong sesama.
Apabila keempat sifat diatas sudah menyatu dalam kepribadian seorang “ haji ” maka berarti ia telah mendapat “ Haji Mabrur ”. Begitu pula sebaliknya, kalau jauh dari sifat-sifat dan sikap itu, kemungkinan ia tidak mendapat “Haji Mabrur”, tetapi mendapat “haji mardud”, yakni haji yang tidak diterima oleh Allah. Wallah A'lam Bisshawab.
--------------------------
Ada sebuah kisah nyata yang diceritakan oleh Imam dan Khotib Masjid Rohmah, Cairo Mesir, patut untuk kita renungkan.

Suatu ketika Hasan Al-Basyri menunaikan ibadah haji. Ketika beliau sedang istirahat, beliau bermimpi. Dalam mimpinya beliau melihat dua Malaikat sedang membicarakan sesuatu.
“Rasannya orang yang menunaikan haji tahun ini, banyak sekali” Komentar salah satu Malaikat
“Betul” Jawab yang lainya.
“Berapa kira – kira jumlah keseluruhan?”
“Tujuh ratus ribu”
“Pantas”
“Eh, kamu tahu nggak, dari jumlah tersebut berapa kira – kira yang mabrur”,
Selidik Malaikat yang mengetahui jumlah orang – orang haji tahun itu
“Wah, itu sih urusan Allah”
“Dari jumlah itu, tak satupun yang mendapatkan haji Mabrur”
“Kenapa?”
“Macam – macam, ada yang karena riyak, ada yang tetangganya lebih memerlukan uang tapi tidak dibantu dan dia malah haji, ada yang hajinya sudah berkali kali, sementara masih banyak orang yang tidak mampu, dan berbagai sebab lainnya’
“Terus?”
“Tapi Masih ada, orang yang mendapatkan Pahala haji mabrur tahun ini”
“Lho katannya tidak ada”
“Ya, karena orangnya tidak naik haji”
“Kok bisa”
“Begitulah”
“Siapa orang tersebut?”
“Sa’id bin Muhafah, tukang sol sepatu di kota Damsyiq”

Mendengar ucapan itu, Hasan Al-Basyri langsung terbangun. Sepulang dari Makkah, ia tidak langsung ke Mesir, Tapi langsung menuju kota Damsyiq (Siria). Sesampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.

“Ada, ditepi kota” Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai disana Hasan Al-Basyri menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh,
“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Hasan Al-Basyri
“Betul, kenapa?”

Sejenak Hasan Al-Basyri kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya iapun menceritakan perihal mimpinya. “Sekarang saya tanya, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur, barang kali mimpi itu benar” selidik Hasan Al-Basyri sambil mengakhiri ceritanya.

“Saya sendiri tidak tahu, yang pasti sejak puluhan tahun yang lalu saya memang sangat rindu Makkah, untuk menunaikan ibadah haji. Mulai saat itu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Dan pada tahun ini biaya itu sebenarnya telah terkumpul”
“Tapi anda tidak berangkat haji”
“Benar”
“Kenapa?”
“Waktu saya hendak berangkat ternyata istri saya hamil, dan saat itu dia ngidam berat”
“Terus?”
“Ngidamnya aneh, saya disuruh membelikan daging yang dia cium, saya cari sumber daging itu, ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh, disitu ada seorang janda dan enam anaknya. Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin daging yang ia masak, meskipun secuil. Ia bilang tidak boleh, hingga saya bilang bahwa dijual berapapun akan saya beli, dia tetap mengelak.
Akhirnya saya tanya kenapa?.. “daging ini halal intuk kami dan haram untuk tuan” katanya
“Kenapa?” tanyaku lagi ,
“Karena daging ini adalah bangkai keledai, bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakanya tentulah kami akan mati kelaparan,”
Jawabnya sambil menahan air mata.
Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang, saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, akhirnya uang bekal hajiku kuberikan semuanya untuk dia”
Mendengar cerita tersebut Hasan Al-Basyripun tak bisa menahan air mata.”Kalau begitu engkau memang patut mendapatkanya” Ucapnya.


Sumber : - www.ismusurizan.com - siteislam.blogspot.com
HAJINYA MABRUR TANPA BERHAJI

Sabtu, 20 November 2010

Nasip biker

Tadi sekitar pukul 06.10 pagi, ketika aku melintas dijalan baru Cadas Sepatan Tangerang, ada sebuah insiden yang amat mengerikan. Seorang biker tertabrak bus yang mengangkut karyawan sebuah pt. orang-orang pada berhenti semua mencoba memberi pertolongan, karena sepagi ini polisi juga belum ada di tempat.
Jalanpun menjadi macet total dari sesaknya kendaraan yang akan melintas arah Tangerang kota maupun yang akan ke arah Cadas, ditambah lagi dengan kerumunan orang-orang yang berhenti dan mengevakuasi korban  mengumpulkan serpihan-serpihan motor yang hancur berantakan.
Ketika aku melintas disekitar kejadian, aku lihat biker itu pingsan, tampak betis kakinya robek sekitar sepuluh cm. Sementara beberapa motor hancur berantakan tak ubahnya onggokan besi tua berserakan dimana-mana.
Melihat insiden ini aku ngeri. Sepanjang perjalanan menuju tempat kerjaku, mataku terbayang pada robekan  daging segar yang tersayat lebar dan dalam menyembul di sela-sela kakinya. Sayangnya aku tidak tau persis kronologisnya.
Dari peristiwa ini aku berharap kawan-kawan biker semua, waspadalah saat berbiker ria. Aku tidak ingin melihat lagi kejadian seperti ini. 
Sebelum turun kejalanan, harap perhatikan semua peralatan keamanan yang dibutuhkan. Patuhilah rambu-rambu lalulintas, jangan ngebut kalau jalanan tidak aman untuk ngebut, terutama dipagi hari ketika jalanan dipenuhi lalulintas kendaraan, sayangi anda sendiri dan keluarga anda. Sebab dirumah, keluarga anda menanti anda dan membutuhkan anda.

Nasip biker

Senin, 15 November 2010

ESENSI MAKNA KURBAN

Hari Raya Korban adalah peristiwa besar yang melambangkan sejarah agama tauhid, pengorbanan yang ikhlas kerana Allah dan usaha terus menerus untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Ia merupakan amalan tradisi para nabi sejak Adam hingga Nabi Muhammad s.a.w.
Berkorban merupakan salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah. Dengan demikian, maka seharusnya kita menghayati kembali sabda Nabi s.a.w yang artinya :

”Barang siapa yang mempunyai keluasan rizki, lalu tidak berkorban, maka janganlah mendekati tempat solat kami.” ( Riwayat Ibnu Majah )
Dalam suatu peristiwa yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah dari Zaid bin Arqam, pernah seorang sahabat bertanya kepada baginda Rasulullah :
‘‘Wahai Rasulullah, apakah arti korban ini?” tanya sahabat. ‘‘Itulah sunnah dari datukmu Ibrahim,” jawab Rasulullah. “Apakah keuntungan korban itu untuk kita?” tanya sahabat itu lagi. ‘‘Setiap helai bulu hewan korban itu merupakan satu kebaikan (hasanah),” jawab Rasulullah. Seandainya ada sesuatu yang lebih utama dari pada penyembelihan hewan korban yang menjadi penebusan manusia di atas segala nikmat, tentunya Allah tidak akan menyebutkan penyembelihan hewan korban itu meneruskan firman-Nya yang artinya: ”Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar, sebagai tebusan atas Ismail a.s.” ( As-Shaffat: 107 )
Berdasarkan penjelasan hadis dan firman Allah dalam al-Quran, bahwa amalan korban berasal dari Nabi Ibrahim a.s yang kemudian diwarisi oleh baginda Rasulullah sebagai satu ibadah dalam syariat Islam yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan.
Ibadah korban ini berawal dari zaman Nabi Ibrahim. Tatkala Nabi Ibrahim bersama putranya, Ismail, selesai membenahi Kaabah di Mekah atas perintah Allah yang merupakan pusat kegiatan bagi penegakan dasar-dasar tauhid, Allah s.w.t menguji kekokohan iman kedua nabi ini. Pengorbanan itu adalah pengorbanan yang paling tinggi nilainya dalam kehidupan, yaitu pengorbanan jiwa dan raga.
Menurut Imam Syafie, hukum korban adalah sunat muakkad yang amat dianjurkan kepada mereka yang mampu termasuk para hujjaj ( jemaah haji ) yang berada di Mina serta umat Islam yang berada di kampung halamannya sendiri, kerana itu adalah amalan yang amat dicintai Allah pada hari nahr ( Hari Raya ). Namun dengan demikian, terdapat sebagian ulama yang menyatakan ibadah kurban adalah wajib kepada mereka yang mampu berdasarkan firman Allah yang maksudnya :

”Maka dirikanlah shalat kepada Allah ( Tuhanmu ) dan berkorbanlah.” ( Al-Kauthar: 2 ).
Di dalam Al-Quran dijelaskan tentang pengorbanan dua orang anak Nabi Adam. Anak pertama memberi korban dengan tulus ikhlas atas dasar niat demi mematuhi perintah Allah s.w.t. dan mendekatkan diri kepada-Nya. Dan anak yang kedua juga berkorban akan tetapi tidak berdasarkan atas ketulusan hati dan usaha yang sungguh-sungguh untuk mendekatkan diri kepada Allah.Dengan demikian, korban anak yang pertama diterima di sisi Allah s.w.t, sedangkan anak kedua tidak diterima oleh Allah. Allah berfirman yang artinya :
“Dan bacakanlah ( wahai Muhammad ) kepada mereka kisah ( tentang ) dua orang anak Adam ( Habil dan Qabil ) yang berlaku dengan sebenarnya, yaitu ketika mereka berdua melaksanakan korban ( untuk mendekatkan diri kepada Allah ). Lalu diterima korban salah seorang antara mereka ( Habil ), dan tidak diterimanya ( korban ) dari yang lain ( Qabil ). Berkata ( Qabil ): “Sesungguhnya aku akan membunuhmu.” Lalu Habil menjawab: “ Hanya Allah menerima ( korban ) dari orang-orang yang bertakwa.” (Al-Maidah: 27)
Amalan ibadah korban ini kemudian diteruskan oleh Nabi Ibrahim a.s sebagaimana firman Allah yang artinya :
“Maka tatkala anaknya itu sampai pada masa-masa mendekatkan diri kepada-Nya, Nabi Ibrahim berkata: “Wahai anak kesayanganku. Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahawa aku akan menyembelihmu; maka fikirkanlah apa pendapatmu ? Anaknya menjawab: “Wahai ayah, laksanakanlah apa yang Allah perintahkan kepadamu, insya-Allah, ayah akan mendapati diriku dari orang-orang yang sabar.” (Al-Shaffat: 102)
Mengapa Allah memerintahkan Nabi Ibrahim a.s menyembelih Ismail kemudian membatalkannya dan menebusnya dengan seekor kibasy ? Ini bukanlah hanya ujian semata untuk keduanya, bukan pula hanya sekedar membuktikan ketabahan keluarga Ibrahim, tetapi adalah penjelasan kepada siapa saja
ESENSI MAKNA KURBAN

BERITA HARI INI

 

VIVAnews - NASIONAL

YAHOO PIPES

BERITA TERBARU

Editor template ibnuhasbie | Untuk template Catatan Harian